Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pembekalan bergaya militer bagi peserta sipil. Langkah ini diambil menyusul insiden tragis meninggalnya lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Komisioner Komnas Perempuan Yuni Asriyanti, negara memegang tanggung jawab penuh dalam melindungi nyawa setiap warga negara yang tengah mengikuti program resmi di bawah otoritas pemerintah. "Negara memiliki tanggung jawab yang bersifat terus-menerus untuk melindungi nyawa setiap peserta dalam program yang berada di bawah otoritasnya," ujar Yuni dalam keterangan tertulis pada Rabu (1/7/2026). Ia menegaskan tanggung jawab ini tidak hilang begitu saja meski peserta dinyatakan lolos tes kesehatan awal.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Pertahanan per 27 Juni 2026, kelima peserta tersebut dilaporkan meninggal akibat tuberkulosis, henti jantung (cardiac arrest), dan heat stroke. Para korban di antaranya adalah YMT dan MRR, serta tiga peserta perempuan yakni AM, NRS, dan ND yang tersebar di beberapa Satuan Pendidikan (Satdik). Dari pantauan redaksi, perhatian khusus diberikan Komnas Perempuan lantaran mayoritas korban jiwa dalam insiden ini merupakan perempuan.
Dari pengamatan tim redaksi, insiden ini juga menyingkap kelemahan proses penyaringan peserta, di mana terdapat 32 peserta perempuan yang dalam kondisi hamil sempat dinyatakan lolos sebelum akhirnya dipulangkan. Komisioner Komnas Perempuan Dahlia Madanih mendorong agar pihak berwenang tidak terburu-buru menyimpulkan kematian tersebut sebagai akibat kelemahan biologis semata. Pihaknya mendesak adanya investigasi independen yang menyeluruh agar hak asasi manusia dan perspektif gender menjadi landasan utama di masa depan.